RadarKota — Harga minyak dunia masih berada di atas US$100 per barel pada perdagangan 9 Oktober 2026. Meski harga turun di tengah meredanya kekhawatiran gangguan pasokan, level tersebut tetap menjadi sumber risiko bagi negara pengimpor energi dan anggaran yang sensitif terhadap harga minyak.
Reuters melaporkan kontrak minyak Brent turun US$1,10 menjadi US$103,18 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah US$0,49 menjadi US$91 per barel.
Penurunan tersebut dipengaruhi meredanya kekhawatiran pasokan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan bahwa tidak akan ada tindakan militer terhadap Iran sebelum pemilihan paruh waktu AS. Pasar juga merespons perkembangan diplomasi terkait konflik yang telah mengganggu pasar energi.
Namun, penurunan dalam satu sesi perdagangan tidak berarti risiko energi telah hilang.
Geopolitik Faktor Penentu
Pasar energi global tetap sensitif terhadap perkembangan di kawasan Teluk, termasuk kondisi Selat Hormuz yang menjadi jalur penting pengiriman minyak dunia.
Reuters melaporkan bahwa sekitar 20 persen pengiriman minyak global sebelumnya melewati jalur tersebut. Gangguan berkepanjangan di kawasan ini berpotensi memengaruhi pasokan, biaya pengiriman, dan ekspektasi harga.
Pada saat bersamaan, perkembangan konflik dan kebijakan negara produsen dapat mengubah sentimen pasar dengan cepat. Karena itu, pergerakan harga minyak tidak hanya dipengaruhi keseimbangan permintaan dan penawaran, tetapi juga risiko geopolitik.
Indonesia Perlu Waspada
Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya pengadaan energi dan menekan neraca perdagangan migas. Besarnya dampak terhadap anggaran negara bergantung pada berbagai faktor, termasuk asumsi harga minyak dalam APBN, nilai tukar rupiah, volume impor, produksi domestik, serta kebijakan harga energi.
Jika harga minyak tinggi berlangsung lama, tekanan biaya dapat menjalar ke sektor transportasi, logistik, manufaktur, dan distribusi barang. Perusahaan yang menghadapi kenaikan biaya operasional mungkin perlu menyesuaikan harga atau menerima penurunan margin keuntungan.
Namun, dampak terhadap harga BBM di dalam negeri tidak otomatis terjadi setiap kali harga minyak dunia naik. Kebijakan pemerintah, mekanisme penetapan harga, jenis BBM, dan struktur biaya ikut menentukan hasil akhirnya.
Jangan Andalkan Penurunan Sesaat
Bagi pemerintah, respons yang bijak adalah memperhitungkan beberapa skenario harga minyak, menjaga ketepatan sasaran subsidi dan kompensasi energi, serta memperkuat efisiensi konsumsi energi.
Pelaku usaha juga perlu memperhatikan risiko harga dan kurs dalam menyusun anggaran operasional. Sementara itu, masyarakat perlu membedakan pergerakan harga minyak mentah internasional dengan harga BBM eceran yang berlaku di dalam negeri.
Minyak yang turun sehari bisa memberi ruang bernapas bagi pasar. Tetapi selama ketidakpastian geopolitik masih tinggi, menganggap risiko energi telah berakhir merupakan pertaruhan yang terlalu mahal.




