Tag: BI

  • Konsumen Masih Optimistis, tapi Belanja Bulanan Diproyeksi Turun 2,3 Persen

    Konsumen Masih Optimistis, tapi Belanja Bulanan Diproyeksi Turun 2,3 Persen

    RadarKota — Optimisme konsumen Indonesia belum sepenuhnya berubah menjadi peningkatan belanja setiap bulan. Survei Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September 2026 berada pada level 118,1, masih di atas ambang optimistis 100. Namun, indikator penjualan eceran memperlihatkan gambaran yang lebih beragam.

    BI memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) September tumbuh 1,4 persen secara tahunan menjadi 221,3. Angka tersebut lebih tinggi daripada pertumbuhan 1,3 persen pada Agustus. Akan tetapi, secara bulanan, penjualan eceran diperkirakan mengalami kontraksi 2,3 persen.

    Perbedaan ini penting. Pertumbuhan tahunan menunjukkan perbandingan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan angka bulanan menggambarkan perubahan dibandingkan bulan sebelumnya. Keduanya tidak boleh disamakan.

    Optimisme Bukan Jaminan

    Dalam survei konsumen yang dirilis pada 8 Oktober, BI mencatat Indeks Ekspektasi Konsumen mencapai 128,7, meningkat dari 127,6 pada bulan sebelumnya.

    Sebaliknya, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini turun menjadi 107,5 dari 109,4 pada Agustus. Kedua indeks masih berada pada level optimistis, tetapi pergerakannya menunjukkan bahwa harapan terhadap masa depan dan penilaian atas kondisi saat ini tidak selalu berjalan searah.

    Bagi pelaku usaha, keyakinan konsumen menjadi salah satu indikator untuk menyusun persediaan, menentukan promosi, dan memperkirakan permintaan. Namun, keputusan belanja nyata juga dipengaruhi pendapatan, harga kebutuhan pokok, cicilan, dan pengeluaran rutin.

    Sektor Ritel Hadapi Pola Belanja Berbeda

    Menurut survei BI, peningkatan penjualan tahunan pada September diperkirakan didorong kelompok barang lainnya, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta barang budaya dan rekreasi.

    Di sisi lain, kontraksi bulanan terutama dipengaruhi penurunan penjualan kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

    Data tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa konsumsi rumah tangga secara keseluruhan melemah. Penjualan ritel merupakan salah satu indikator konsumsi, bukan gambaran lengkap seluruh aktivitas belanja masyarakat.

    Apa yang Harus Dicermati?

    Perkembangan penjualan pada bulan-bulan selanjutnya perlu dibaca bersama data inflasi, pertumbuhan pendapatan, dan indikator konsumsi lainnya. Jika keyakinan konsumen tetap tinggi dan penjualan riil terus tumbuh, hal itu dapat mendukung aktivitas usaha.

    Sebaliknya, apabila optimisme bertahan tetapi belanja aktual terus tertahan, perusahaan perlu lebih berhati-hati dalam memperluas persediaan dan kapasitas.

    Bagi pemerintah, tantangannya bukan sekadar mempertahankan optimisme, melainkan memastikan kondisi ekonomi yang dirasakan masyarakat cukup kuat untuk menopang konsumsi secara berkelanjutan.

  • Inflasi 3,28 Persen: Harga Pangan Kembali Menggigit, Daya Beli Rakyat Jadi Taruhan

    Inflasi 3,28 Persen: Harga Pangan Kembali Menggigit, Daya Beli Rakyat Jadi Taruhan

    RadarKota — Tekanan biaya hidup kembali menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Indonesia pada September 2026 sebesar 3,28 persen, sementara inflasi bulanan mencapai 0,30 persen.

    Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat sebesar 112,31. Secara kumulatif sejak awal tahun, inflasi mencapai 2,17 persen. Angka tersebut perlu dibaca lebih jauh daripada sekadar persentase nasional. Bagi rumah tangga berpenghasilan terbatas, kenaikan harga pangan dan kebutuhan sehari-hari dapat langsung mengurangi ruang belanja untuk pendidikan, transportasi, kesehatan, serta tabungan.

    Pangan jadi Titik Rawan

    Bank Indonesia (BI) melaporkan kelompok harga pangan bergejolak atau volatile food mengalami inflasi 1,46 persen secara bulanan pada September. Angka ini lebih tinggi daripada 0,88 persen pada Agustus.

    Secara tahunan, inflasi kelompok tersebut mencapai 5,03 persen, naik dari 4,06 persen pada bulan sebelumnya. Komoditas yang memberi andil terhadap tekanan tersebut antara lain cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras.

    BI mengaitkan perkembangan itu dengan penurunan produksi di sejumlah daerah sentra akibat gangguan cuaca serta kenaikan biaya input produksi.

    Sementara itu, inflasi inti tercatat 2,84 persen secara tahunan dan 0,10 persen secara bulanan. Artinya, tekanan harga tidak seragam di seluruh kelompok barang. Pangan menjadi salah satu sumber tekanan yang perlu mendapat perhatian khusus.

    Angka Nasional Vs Fakta

    BPS mencatat inflasi tahunan tertinggi di tingkat provinsi terjadi di Sulawesi Utara, sebesar 7,59 persen. Sebaliknya, Sumatera Selatan mencatat angka terendah, yakni 2,55 persen.

    Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga berbeda antardaerah. Kondisi pasokan, biaya distribusi, cuaca, dan struktur konsumsi lokal ikut menentukan seberapa besar beban yang dirasakan masyarakat.

    Karena itu, keberhasilan pengendalian inflasi tidak cukup dinilai dari angka nasional. Pemerintah daerah perlu memastikan pasokan komoditas strategis tersedia, jalur distribusi berjalan lancar, dan intervensi dilakukan ketika lonjakan harga benar-benar terjadi.

    Ujian Kebijakan di Pasar

    BI bersama pemerintah pusat dan daerah menjalankan koordinasi pengendalian inflasi, termasuk melalui upaya menjaga pasokan pangan dan mengantisipasi gangguan cuaca ekstrem.

    Namun, masyarakat pada akhirnya menilai kebijakan dari harga yang mereka temui di pasar, bukan dari pernyataan bahwa inflasi masih terkendali.

    Jika kenaikan harga bahan pokok lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan rumah tangga, daya beli dapat tertekan meskipun indikator makroekonomi terlihat relatif stabil. Inilah alasan mengapa pasokan, distribusi, dan pemantauan harga harus berjalan beriringan.

  • Rupiah Terjepit di Rp17.884 per Dolar AS, Cadangan Devisa Tak Bisa Jadi Tameng Selamanya

    Rupiah Terjepit di Rp17.884 per Dolar AS, Cadangan Devisa Tak Bisa Jadi Tameng Selamanya

    RadarKota — Rupiah masih menghadapi tekanan berat di tengah ketidakpastian pasar keuangan global. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan kurs referensi JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) berada di level Rp17.884 per dolar Amerika Serikat pada 9 Oktober 2026.

    Di saat yang sama, cadangan devisa Indonesia tercatat US$146,3 miliar pada akhir September, turun dari US$146,5 miliar pada akhir Agustus. Angka tersebut memperlihatkan dua sisi ekonomi Indonesia: tekanan terhadap mata uang domestik belum sepenuhnya reda, tetapi bantalan eksternal masih tersedia untuk meredam gejolak.

    BI menyatakan cadangan devisa pada akhir September setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor, atau 5,2 bulan impor sekaligus pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi ini masih melampaui standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

    Namun, cadangan devisa bukan sumber daya tanpa batas. Penggunaannya untuk stabilisasi nilai tukar harus mempertimbangkan kebutuhan pembayaran luar negeri, kondisi likuiditas valuta asing, dan perkembangan arus modal.

    Tekanan Global Belum Usai

    Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede menilai, ketahanan rupiah masih ditopang oleh posisi cadangan devisa yang relatif kuat. Ia menyebut cadangan devisa September turun tipis sekitar US$0,2 miliar, meskipun terjadi arus keluar bersih di pasar portofolio.

    “Faktor tersebut penting karena pergerakan rupiah tidak hanya ditentukan oleh kondisi domestik,”

    ujarnya, Jumat, 9 Oktober 2025.

    Perubahan ekspektasi suku bunga Amerika Serikat, sentimen investor, serta kebutuhan dolar untuk pembayaran impor dan utang juga dapat memengaruhi permintaan valuta asing.

    Dampaknya Bagi Masyarakat?

    Jika pelemahan rupiah bertahan, biaya impor berpotensi meningkat, terutama untuk barang dan bahan baku yang pembayarannya menggunakan dolar. Perusahaan yang bergantung pada komponen impor dapat menghadapi tekanan biaya, sementara sebagian pelaku usaha mungkin meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen.

    Meski demikian, besarnya dampak terhadap harga barang akan bergantung pada kontrak pembelian, lindung nilai valuta asing, persediaan, dan kemampuan perusahaan menyerap biaya tambahan.

    Pemerintah dan BI kini menghadapi pekerjaan yang tidak sederhana: menjaga stabilitas tanpa menimbulkan biaya kebijakan yang berlebihan. Cadangan devisa memberi ruang untuk bertindak, tetapi pemulihan kepercayaan investor dan penguatan fundamental tetap menjadi kunci.

    Pasar pada akhirnya tidak hanya menilai berapa besar cadangan devisa Indonesia, tetapi juga seberapa kuat ekonomi mampu menghasilkan devisa dan menarik investasi yang berkelanjutan.