RadarKota — Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir September 2026 memperlihatkan pekerjaan fiskal pemerintah belum selesai. Pendapatan negara telah mencapai Rp2.341,5 triliun, sedangkan belanja negara terealisasi Rp2.660,5 triliun. Selisih keduanya menghasilkan defisit Rp319 triliun.
Data Kementerian Keuangan yang dipaparkan pada 9 Oktober menunjukkan pendapatan negara setara 74,2 persen dari target APBN, sementara belanja mencapai 69,2 persen dari pagu. Defisit tersebut tercatat sebesar 1,24 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Angka ini tidak otomatis menunjukkan krisis fiskal. APBN memang dirancang dapat mengalami defisit, dengan pembiayaan yang harus dikelola sesuai kerangka anggaran. Persoalan utamanya adalah apakah kualitas pendapatan, efektivitas belanja, dan kebutuhan pembiayaan tetap terjaga hingga akhir tahun.
Penerimaan tumbuh, Target Menunggu
Dari sisi penerimaan perpajakan, penerimaan pajak tercatat Rp1.607,6 triliun atau 68,2 persen dari target APBN. Kementerian Keuangan melaporkan pertumbuhan sebesar 24,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara, menyebut realisasi pendapatan negara hingga akhir September masih sesuai jalur target tahunan. Namun, penerimaan pajak yang baru mencapai 68,2 persen dari target menunjukkan bahwa pemerintah masih perlu mengejar sisa penerimaan pada kuartal terakhir.
Bukan Sekadar Soal Angka
Defisit Rp319 triliun perlu dilihat bersama kebutuhan pembiayaan, kualitas belanja, dan prospek penerimaan pada bulan-bulan berikutnya. Belanja yang produktif dapat mendukung pertumbuhan ekonomi, tetapi belanja yang tidak efektif berisiko memperbesar beban tanpa menghasilkan manfaat yang sepadan.
Di sisi lain, penerimaan pajak yang meningkat tidak otomatis berarti seluruh sektor usaha sedang tumbuh kuat. Penilaian harus mempertimbangkan sumber pertumbuhan penerimaan, kondisi wajib pajak, serta keberlanjutan aktivitas ekonomi.
Pemerintah perlu menjaga agar penerimaan tidak hanya meningkat secara nominal, tetapi juga berkelanjutan. Kepastian aturan, administrasi pajak yang efektif, dan penggunaan anggaran yang transparan menjadi bagian penting dari upaya tersebut.
Kuartal Terakhir jadi Penentu
Dengan tiga bulan tersisa dalam tahun anggaran, pemerintah perlu memastikan belanja yang sudah direncanakan benar-benar memberikan hasil. Publik juga perlu memperoleh informasi yang jelas tentang penggunaan anggaran, hasil program, serta risiko pembiayaan.
APBN yang sehat bukan berarti tidak boleh defisit. Yang lebih penting adalah defisit dikelola secara terukur, pembiayaan tetap terkendali, dan belanja negara menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata.
